Selasa, 26 Februari 2013

PELESTRIAN KAWASAN SITUS GUNUNG ARJUNA


 REFLEKSI PELESTRIAN KAWASAN SITUS GUNUNG ARJUNA

Syarifah Aini


A.           PENDAHULUAN
Sudah sejak mulanya kita pelajari, bahwa kebudayaan dan masyarakat pendukungnya merupakan paduan yang tak terpisahkan. Tak mungkin yang satu diantara dua ini berdiri sendiri (R. Soekmono, 1973:124). Sejarah tidak melulu mengenai peristiwa penting ataupun tokoh-tokoh besar di masa lampau, namun juga mengenai produk budaya material. Menurut R. Soekmono pengertian dari pelestarian benda cagar budaya adalah 1) mencegah secara fisis tentang kerusakan atau pemusnahan benda cagar budaya serta mengupayakan agar benda cagar budaya tetap eksis dari bahaya kepunahan, dan 2) mempertahankan serta mengupayakan agar nilai-nilai budaya positif yang terkandung didalamnya dapat berkembang bahkan diwariskan secara terus menerus dalam rangka memperkuat jati diri bangsa (Blasius Suprapta, 1996:86). Menurut pasal 15 Undang-Undang Republik Indonesia Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dijelaskan mengenai larangan merusak Benda Cagar budaya dan situs serta lingkungannya yang meliputi merubah bentuk dan warna, memisahkan dari satu kesatuannya, membawa atau memindah tangankan, dan memperjual-belikan secara ilegal. Semuanya itu adalah pengertian dari vandalisme benda cagar budaya yang merupakan sebab utama dari rusak atau musnahnya benda cagar budaya.
Vandalisme menunjukkan betapa rendahnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap benda cagar budaya. Masalah utama dalam upaya pelestarian benda cagar budaya adalah bersifat teknik arkeologis, maksudnya pelestarian benda cagar budaya harus berjalan sesuai prinsip-prinsip yang dianjurkan dalam Ilmu Arkeologi yang sesuai yaitu pemugaran yang merupakan perbaikan dan pemulihan kembali atas dasar dan dengan menggunakan bahan dasar aslinya Dalam pemugaran meskipun sudah sesuai dengan bentuk aslinya namun masih saja terdapat beberapa unsur yang kurang hal ini terjadi karena tidak semua bahan aslinya dalam keadaan utuh ataupun ditemukan. Faktor ini jelas merupakan sebuah hambatan dalam kaitannya dengan pelestarian benda cagar budaya, namun pemugaran tetaplah sebagai upaya melestarikan dan melindungi benda cagar budaya. Setelah kegiatan konservasi selesai dilanjutkan dengan kegiatan pemeliharaan pascakonservasi, dimana kegiatan ini bertujuan untuk merawat secara rutin situs-situs yang telah selesai dipugar agar tidak mengalami kerusakan lagi. Namun jika melihat secara langsung apa yang terjadi saat ini sungguh berbeda sebab meskipun perawatan rutin telah dilakukan akan tetapi pada beberapa bagian terlihat kerusakan baru ataupun bagian lama yang rusak kemudian diperbaiki mengalami kerusakan lagi.
Permasalahan seperti ini dapat terjadi karena beberapa sebab seperti keterbatasan sarana dan prasarana untuk perawatan akibat minimnya anggaran dari pemerintah dan juga kualitas dari seorang juru rawat yang belum tentu sesuai dengan standar yang ditentukan, namun hal yang tak kalah berpengaruh adalah peran serta masyarakat yang masih minim dalam ikut serta menjaga dan melestarikan benda cagar budaya. Sehingga hal seperti ini patut mendapat perhatian lebih lanjut dari instansi terkait ataupun masyarakat. Bahkan perlu dipupuk pula kesadaran rumangsa andharbeni (rasa memiliki) yang tinggi dari masyarakat ( Slamet Sujud, 2005:100).
B.           SITUS – SITUS DI GUNUNG ARJUNA
Gunung Arjuna terletak di Kabupaten Pasuruan, Malang dan Mojokerto masuk dalam kawasan Perhutani Perlindungan Taman Hutan Raya R. Soeryo. Masyarakat Jawa percaya bahwa kisah dalam wayang adalah kejadian sebenarnya yang terjadi di tanah Jawa. Para dewa-dewa pun diyakini bersemayam di puncak-puncak gunung. Gunung Arjuna memiliki ketinggian 3.339 meter dari permukaan laut, namun menurut legenda, dahulu tinggi gunung ini hampir menyentuh langit. Karena perbuatan Arjuna maka gunung ini tingginya menjadi berkurang. Arjuna adalah seorang ksatria Pendawa yang gemar bertapa, yang biasanya bertujuan untuk memperoleh kesaktian dan pusaka supaya dapat memenangkan perang Baratayudha

1.         GUA OENTOBUGO
Gua ini berada di pintu masuk ke Gunung Arjuna, berda di Desa Tambakwatu Kec. Purwodadi di dalam Gua terdapat makam nenek moyang dengan nama mbah oentoboego di pintu masuk ke Gunung Arjuna yang merupakan Pos I jalur pendakian lewat Kecamatan Purwodadi.

2.         WATU KURSI


Watu Kursi

3.         TAMPUWONO
Tampuwono merupakan Pos IV disekitar Tampuwono terdapat basecamp bagi para pendaki, dan warung-warung terdapat makam Eyang Sekutrem dan Gua Naga Geni

Gua Naga Geni


Makam Eyang Sekutrem

4.         SEMAR
Di Pos IV adalah   Semar dimana disana juga terdapat Basecamp bagi para pendaki terdapat patung mbah Semar dan punden tempat pemujaannya

Patung Semar


5.             MANGKUTOROMO
         Mangkutoromo merupakan sebuah makam yaitu Mbah Mangkutoromo di sini terdapat
         basecamp para pendaki dan area camping sebelum mendaki ke puncak Arjuna

Makam Mbah Mangkutoromo


C.           PELESTARIAN BENDA PENINGGALAN SEJARAH
Sejak dahulu bangsa Indonesia sudah mampu menciptakan berbagai benda dan karya yang sangat berharga. Peninggalan sejarah tersebut sebagai bukti bahwa Indonesia telah memiliki budaya yang tinggi. Semua peninggalan bersejarah penting artinya bagi sebuah negara. Peninggalan sejarah merupakan kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya. Semakin lama atau semakin tua, nilainya justru semakin tinggi. Semakin langka suatu peninggalan bersejarah juga semakin tinggi nilainya. Peninggalan-peninggalan bersejarah sangat bermanfaat sebagai bahan studi atau penelitian di samping juga dapat dijadikan sebagai obyek wisata. Karena begitu pentingnya peninggalan bersejarah maka perlu diadakan upaya pelestarian. Hal-hal yang dapat dilakukan dalam upaya melestarikan peninggalan bersejarah antara lain:
·         Melakukan pendataaan dan pencatatan berbagai peninggalan sejarah.
·         Mengumpulkan benda-benda bersejarah dan disimpan di dalam museum.
·         Merawat dan menjaga agar tidak rusak.
·         Melakukan pemugaran atau penataan kembali bangunan bersejarah yang sudah rusak.
·         Menyebarluaskan informasi mengenai peninggalan sejarah yang ada.
            Keindahan, kemegahan serta keunikan peninggalan bersejarah merupakan bukti nyata betapa tingginya budaya bangsa Indonesia. Ini merupakan kebanggaan sejarah bangsa Indonesia. Oleh karena itu, peninggalan sejarah dilindungi oleh undang-undang dan sebagai anggota masyarakat wajib ikut memeliharanya.





Pendakian 01 Juli 2012
membuang asa meraih mimpi
meninggalkan kenangan yang lalu menatap mentari
dari Puncak Arjuna
untuk masa depan yang menanti













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar